Oleh: Seraphinus Sandi
Liputan mendalam ini didukung oleh fellowship dari Lapor Iklim x Yayasan PIKUL. Selengkapnya dapat dilihat melalui tautan berikut: https://regional.kompas.com/read/2026/02/11/114930678/banjir-rob-dan-kerentanan-petani-garam-di-sikka-perlunya-upaya-adaptasi

Sore itu Kampung Garam di Kelurahan Kota Uneng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, tampak lengang setelah hujan. Di sebuah pondok sederhana, Theresia Pina (58) masih sibuk memasak garam di atas tungku. Asap memenuhi ruangan kecil berukuran 3×4 meter hingga membuat matanya perih. Theresia telah memasak garam sejak muda, mengikuti tradisi keluarganya. Namun kondisi pesisir kini berubah. Petak-petak garam yang dulu dimiliki warga di tepi pantai telah hilang akibat banjir rob dan luapan sungai. “Kami dulu punya dua petak garam, tapi sekarang sudah habis tersapu air,” katanya.
Kampung Garam berjarak sekitar 100 meter dari pantai dan menjadi salah satu sentra produksi garam di Sikka. Hilangnya petak garam membuat banyak warga beralih pekerjaan atau merantau. Theresia memilih bertahan dengan mengolah garam kasar dari daerah lain menjadi garam halus untuk dijual ke pasar.
Prosesnya memakan waktu lama. Garam kasar dicampur air tawar, disaring menggunakan oha, lalu dimasak dalam kwik selama enam hingga tujuh jam hingga menjadi garam halus. Selain melelahkan, biaya produksi juga tinggi karena harus membeli garam kasar dan kayu bakar. Pendapatan yang diperoleh tidak besar. Garam halus dijual sekitar Rp450 ribu hingga Rp500 ribu per 50 kilogram, sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tantangan terbesar bagi warga adalah banjir rob yang semakin sering terjadi, terutama antara Oktober hingga Februari. Air laut kerap masuk ke permukiman hingga ke dapur tempat warga memasak garam. “Kalau air laut masuk sampai rumah, kami terpaksa berhenti bekerja,” ujar Theresia.
Kondisi serupa dialami Agustina Febronia Ivoni (36), ibu dua anak yang telah memasak garam sejak remaja. Petak garam yang pernah ia bangun bersama suaminya juga hilang diterjang rob. Kini ia membeli garam kasar dari Wuring dan Nangahale untuk dimasak kembali menjadi garam halus.
Dalam sehari, Ivoni bisa memasak garam hingga dua kali dengan durasi kerja mencapai 14 jam. Suaminya bekerja serabutan untuk menambah penghasilan keluarga. Banjir rob yang terus terjadi telah menjadi masalah kronis bagi Kampung Garam. Lurah Kota Uneng, Servatius, mengatakan wilayah pesisir tersebut dihuni sekitar 300 kepala keluarga. Banyak warga yang dulu bergantung pada produksi garam kini beralih pekerjaan atau merantau. Menurutnya, perubahan kondisi pesisir mulai terasa setelah gempa dan tsunami yang melanda Sikka pada 1992. Sejak saat itu air laut semakin sering naik dan merendam permukiman.
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang, Yandri Anderudson T. Tungga, menjelaskan banjir rob di pesisir Maumere dipengaruhi pasang surut air laut, kondisi topografi landai, serta fenomena astronomi seperti bulan purnama dan perigee. Perubahan iklim juga memperparah situasi melalui kenaikan muka air laut yang diperkirakan mencapai sekitar 10 sentimeter sejak 1990-an.
Di sisi lain, potensi lahan garam di Sikka memang terbatas. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sikka, Paulus Bangkur, mengatakan produksi garam rakyat saat ini hanya sekitar 3,4 hektare di wilayah Nangahale. Tanpa teknologi modern, pengembangan garam sulit dilakukan.
Peneliti Akatiga, Indrasari Tjandraningsih, menilai pemerintah perlu memberikan solusi bagi warga Kampung Garam, mulai dari alternatif mata pencaharian, pelatihan keterampilan, hingga dukungan modal usaha.
Sementara itu, intervensi pemberdayaan bagi pemasak garam masih terbatas. Dinas Sosial Kabupaten Sikka mengakui belum ada program khusus karena keterbatasan anggaran, meski sebagian warga telah menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan.
Bagi Theresia, berbagai keterbatasan itu tidak mengubah pilihannya. Di pondok kecil yang penuh asap, ia tetap menyalakan tungku setiap hari. “Sampai mati pun saya tetap memasak garam,” katanya.
- Editor: laporiklim


