Oleh: Adipatra Kenaro Wicaksana
Liputan mendalam ini didukung oleh fellowship dari Lapor Iklim x Yayasan PIKUL. Selengkapnya dapat dilihat melalui tautan berikut: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/02/02/krisis-iklim-dan-gelombang-baru-penyakit-di-pesisir-indonesia

Wilayah pesisir dan pulau-pulau terluar sering menjadi tempat krisis iklim memperlihatkan wajah paling jujurnya. Jauh sebelum istilah krisis iklim ramai dibahas dalam ruang kebijakan, masyarakat di garis pinggir Indonesia telah lebih dahulu merasakan perubahan.
Air yang tak lagi sepenuhnya tawar, panas yang semakin melelahkan, serta penyakit yang datang lebih sering menjadi bagian dari keseharian. Tubuh mereka bekerja seperti sensor lingkungan, merekam perubahan kecil yang terus berulang. Panas kini tidak sekadar cuaca, tetapi menjelma rasa lelah yang menetap, sementara demam muncul di luar pola yang dikenal.
Banyak wilayah pesisir mengalami perubahan ini lebih cepat daripada tercatat dalam grafik atau laporan ilmiah. Tubuh manusia lebih dulu memberi sinyal bahwa relasi antara iklim dan kehidupan sehari-hari sedang bergeser.
Pengalaman tersebut berulang kali saya temui selama melakukan berbagai survei lingkungan dan kesehatan di puluhan desa pesisir, mulai dari Bali Utara, Pangkajene Kepulauan, hingga pulau-pulau kecil perbatasan. Lokasinya berbeda, tetapi keluhannya serupa: tubuh masyarakat berubah mengikuti iklim yang tak lagi sama.
Wilayah pesisir utara Bali, terutama Kabupaten Buleleng, semakin jelas menunjukkan dirinya sebagai ruang rentan dalam lanskap krisis iklim dan kesehatan. Catatan BMKG menunjukkan Indonesia mengalami tren peningkatan suhu dalam beberapa dekade terakhir.
Perubahan suhu ini terutama terasa pada siang hari. Prakiraan cuaca perairan utara Bali pada Januari 2026 masih menunjukkan suhu udara di kisaran 27–28 °C, dengan kelembapan tinggi yang membuat panas terasa lebih berat bagi tubuh yang bekerja di luar ruangan.
Kondisi ini tercermin dalam ritme kerja nelayan. Aktivitas melaut tidak lagi berlangsung sepanjang hari seperti sebelumnya. Waktu kerja menyempit, bukan semata karena kondisi laut, tetapi karena tubuh lebih cepat kehilangan stamina.
Paparan matahari langsung selama berjam-jam, permukaan laut yang memantulkan panas, serta angin yang semakin tidak menentu menciptakan beban termal berlapis. Tubuh dipaksa bekerja dalam suhu tinggi tanpa cukup ruang untuk pulih.
Temuan lapangan menunjukkan pola ini bukan fenomena sesaat. Keluhan lelah berlebihan, pusing, dan napas pendek semakin sering muncul seiring hari-hari dengan suhu tinggi yang berkepanjangan.
Perubahan suhu yang dicatat BMKG bukan sekadar selisih angka. Ketika suhu maksimum harian meningkat jauh di atas rata-rata, mekanisme fisiologis tubuh harus bekerja lebih keras untuk mendinginkan diri. Energi cepat terkuras dan ketahanan tubuh menurun.
Ketika panas ekstrem menjadi baseline baru cuaca, tubuh manusia lebih dulu “berbicara” melalui tanda-tanda kelelahan dan sakit sebelum angka statistik menjadi peringatan resmi.
Jika Bali Utara memperlihatkan panas sebagai tekanan utama pada tubuh, wilayah lain menunjukkan wajah krisis yang lebih berlapis. Perubahan iklim tidak hanya bekerja melalui udara yang dihirup, tetapi juga melalui air yang digunakan setiap hari.
Jejak perubahan itu terlihat jelas di pesisir Pangkajene Kepulauan. Data layanan kesehatan menunjukkan pola penyakit yang berkaitan dengan perubahan lingkungan. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara konsisten menempati peringkat teratas dalam daftar 10 penyakit terbanyak di puskesmas wilayah kepulauan dan pesisir.
Di beberapa puskesmas pesisir, ISPA menyumbang lebih dari seperempat kunjungan pasien rawat jalan, dengan peningkatan kasus yang terlihat selama periode pancaroba yang semakin panjang dan sulit diprediksi.
Masalah tidak berhenti pada udara. Diare secara konsisten masuk lima besar penyakit terbanyak di puskesmas pesisir Pangkep, terutama setelah musim kemarau panjang. Bersamaan dengan itu, iritasi kulit juga sering muncul, menandakan persoalan kualitas air yang digunakan sehari-hari.
Wilayah kepulauan Pangkep menghadapi kerentanan tinggi terhadap intrusi air laut yang membuat sumber air tanah menjadi payau dan kualitasnya tidak stabil. Pemeriksaan kualitas air di wilayah pesisir menunjukkan peningkatan salinitas dan kandungan bakteri indikator seperti koliform, terutama pada sumur dangkal yang menjadi sumber utama air rumah tangga.
Kondisi ini sejalan dengan pola penyakit berbasis air yang muncul di layanan kesehatan primer. Diare dan gangguan kulit bergerak mengikuti perubahan kualitas air yang semakin sulit dikendalikan.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa krisis iklim di Pangkajene dan Kepulauan bekerja melalui dua jalur utama: udara yang memperberat kerja paru-paru dan air yang menggerus kesehatan pencernaan serta kulit.
Alih-alih berhenti pada diagnosis krisis, temuan di wilayah pesisir justru membuka ruang untuk merumuskan solusi yang lebih terintegrasi. Ketika gangguan pernapasan dan penyakit berbasis lingkungan muncul bersamaan, pendekatan kesehatan masyarakat perlu melampaui pola kuratif dan mulai membaca lingkungan sebagai bagian dari sistem kesehatan.
Langkah kunci yang paling mendesak adalah menghubungkan data iklim dengan data penyakit di layanan kesehatan primer. Puskesmas wilayah pesisir tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, tetapi juga dapat berkembang menjadi simpul peringatan dini kesehatan iklim.
Pola suhu, kelembapan, curah hujan, dan musim pancaroba yang dicatat secara rutin dapat menjadi dasar antisipasi lonjakan ISPA, diare, maupun penyakit kulit, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Pada titik ini, pencegahan berbasis lingkungan menjadi strategi utama. Edukasi kesehatan yang sensitif terhadap musim, penguatan akses air bersih, serta perlindungan kualitas udara di ruang domestik dan fasilitas publik perlu ditempatkan sebagai bagian inti adaptasi iklim.
Upaya sederhana seperti penyesuaian jadwal layanan, kampanye perilaku hidup bersih sehat, hingga penyebaran informasi risiko berbasis cuaca dapat menurunkan beban penyakit sebelum mencapai fase klinis.
Lebih jauh, pengalaman tubuh masyarakat pesisir layak diakui sebagai sumber data yang sah. Keluhan nelayan tentang perubahan angin, cerita ibu rumah tangga soal kualitas air, serta catatan tenaga kesehatan lokal mengenai pola penyakit musiman sering muncul lebih cepat dibandingkan statistik nasional.
Integrasi pengetahuan lokal ke dalam perencanaan kesehatan akan membuat sistem lebih adaptif dan kontekstual.
Dengan memposisikan wilayah pesisir sebagai laboratorium adaptasi kesehatan iklim, pendekatan ini tidak hanya melindungi dari dampak yang sudah berlangsung. Dalam kerangka ini, krisis iklim tidak lagi dipahami sebagai ancaman abstrak, melainkan tantangan nyata yang dapat direspons melalui kebijakan kesehatan yang peka terhadap suhu, air, dan udara, tiga elemen dasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat pesisir hari ini dan masa depan.
- Penulis: laporiklim

