LaporIklim

Dampak Siklon Tropis Nuri: Bolmut Dilanda Banjir dan Tanah Longsor, Padi Terendam Air

Oleh: Fandri Mamonto

Seorang Warga Yang Sedang Menjemur Kembali Padi setelah terendam Air. (Foto Fandri Mamonto)

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) sejak Rabu (11/3) hingga Kamis (12/3/2026) menyebabkan banjir dan tanah longsor. Fenomena ini juga merendam padi petani di lokasi penjemuran gilingan padi Desa Kuala, Kecamatan Kaidipang.

Harun, salah seorang petani, menyebut puluhan karung padi terendam air pada malam hari sekitar pukul 00.00 WITA. “Ini baru kali pertama terjadi di lokasi yang memang rawan banjir ini,” ujarnya. Media melihat sebagian padi yang basah sudah dipindahkan dan dikemas ulang ke dalam karung.

Selain itu, longsor merusak satu rumah di Desa Keimanga, Kecamatan Bolangitang Barat. Kepala Desa Ridwan Ege menyatakan, kerusakan terjadi di bagian dapur, namun tidak ada korban jiwa. Banjir juga sempat melanda Desa Sonuo, Wakat, dan Nunuka, meski air cepat surut.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, Muhammad Candra Buana, menjelaskan hujan ekstrem ini dipicu Siklon Tropis Nuri yang meningkatkan intensitas curah hujan melalui penumpukan massa udara di atas Sulawesi. Fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga tiga hari ke depan.

Tempat Penjemuran Padi Yang Terendam Air. (Foto Fandri Mamonto)

Indonesia Semakin Rentan Siklon Tropis

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan Indonesia kini semakin rawan terhadap siklon tropis. Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, menyebut pemanasan suhu laut membuat peluang terbentuknya siklon lebih besar dan lebih dekat ke wilayah Indonesia.

“Indonesia bukan lagi wilayah yang aman dari siklon. Suhu laut yang semakin hangat meningkatkan risiko terbentuknya siklon tropis di dekat kita,” kata Yosef, Kamis (5/3/2026). Analisis data 1990–2023 menunjukkan ratusan siklon terjadi di wilayah selatan Indonesia, dengan puluhan terbentuk di dalam wilayah nasional. Contoh nyata adalah Siklon Seroja (2021) yang memicu banjir bandang dan korban jiwa.

BRIN menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap informasi cuaca. Strategi adaptasi mencakup pembangunan bangunan tahan angin, penguatan sistem drainase, rehabilitasi mangrove, dan pemahaman peringatan dini.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menambahkan fenomena siklon tropis dekat ekuator tergolong jarang. Biasanya, pembentukan siklon mengikuti pergerakan matahari, dominan di Belahan Bumi Utara atau Selatan sesuai musim. Meski Indonesia bukan jalur utama, dampak hujan ekstrem dan angin kencang tetap signifikan dan perlu diwaspadai.

“Fenomena ini menjadi catatan penting bagi sains meteorologi Indonesia. Pemantauan satelit dan kajian mendalam sangat diperlukan agar masyarakat lebih siap menghadapi cuaca ekstrem di tengah perubahan iklim global,” tegasnya.

Share the Post:

Related Posts