LaporIklim

Lamun: Ekosistem Pesisir Strategis yang Masih Termarjinalkan

Oleh: Fandri Mamonto

Hamparan Lamun Yang Berada di Pesisir Pantai Saleo, Kecamatan Bolangitang Barat, Bolaang Mongondow Utara. (Foto Fandri Mamonto)

Indonesia dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati ekosistem lamun di dunia. Kepala Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asep Hidayat, menekankan pentingnya ekosistem ini dalam webinar Menjaga dalam Senyap: Padang Lamun, Sang Pelindung Pesisir dan Pengendali Iklim Global pada 2 Maret 2026, bertepatan dengan Hari Lamun Sedunia (1 Maret).

Asep menjelaskan, padang lamun memiliki peran strategis sebagai pelindung pesisir. Ekosistem ini mampu meredam energi gelombang, mengurangi abrasi, menstabilkan sedimen, dan menjaga kejernihan air. Selain itu, lamun menjadi habitat bagi ikan dan spesies bernilai ekonomi tinggi. Di Indonesia, potensi blue carbon di padang lamun diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta ton, menjadikannya aset penting untuk mitigasi perubahan iklim nasional.

Namun ekosistem ini menghadapi ancaman serius, termasuk pembangunan pesisir, sedimentasi akibat konversi lahan hulu, pencemaran lingkungan, penangkapan destruktif, serta dampak perubahan iklim seperti kenaikan suhu permukaan laut.

Data Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI menunjukkan luas lamun di Indonesia pada 2018 mencapai 293.468 hektare. Pemetaan nasional terbaru pada 2025 mencatat peningkatan menjadi 660.156 hektare. Lamun, sebagai tumbuhan berbunga yang hidup di perairan dangkal pesisir, menyediakan habitat dan makanan bagi berbagai organisme laut, seperti ikan, udang, kerang, penyu, dan dugong. Selain itu, lamun menstabilkan sedimen dasar laut dan menyerap karbon, berperan dalam mitigasi perubahan iklim.

Meski memberikan jasa ekosistem signifikan, lamun masih termarjinalkan dibandingkan mangrove dan terumbu karang. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Nurul Dhewani Mirah Sjafrie, menegaskan lamun penting untuk ketahanan pangan, pendapatan warga pesisir, dan mendukung perikanan global. Namun ekosistem ini menghadapi ancaman reklamasi, polusi, penangkapan destruktif, pengerukan, sedimentasi, kenaikan muka air laut, dan peningkatan suhu laut.

Nurul mendorong pembentukan kawasan konservasi dan restorasi habitat lamun, peningkatan kesadaran masyarakat lokal, serta penguatan regulasi untuk melindungi ekosistem ini. Ia menekankan pendekatan Social-Ecological System (SES) yang multi-disiplin, mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, dan tata kelola, agar strategi pengelolaan menjadi komprehensif dan dapat diimplementasikan dalam kebijakan.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Ekologi BRIN, Yusmiana Rahayu, menambahkan bahwa lamun menyerap CO₂ melalui fotosintesis. Menjaga ekosistem ini berarti mencegah terlepasnya karbon yang tersimpan di biomassa dan sedimen, sehingga membantu menekan emisi CO₂ dan memitigasi perubahan iklim.

“Hilangnya lamun akan menjadi ancaman bagi ekosistem dan ekonomi pesisir. Kolaborasi antar-stakeholder sangat penting untuk pengelolaan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Share the Post:

Related Posts