LaporIklim

Bambu: Dari Rebung di Meja Pesta hingga Solusi Ketahanan Ekosistem

Oleh: Fandri Mamonto
Haryono Saat Memanen Sayur Bulu (Bambu) di Perkebunan Tobiho. (Foto Fandri Mamonto)

Terik matahari siang menyengat ketika Haryono menyemprot rumput liar di kebunnya di kawasan perkebunan Tobiho, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara. Sesekali ia berhenti, menatap deretan tanaman di sekelilingnya.

Bagi Haryono, kebun bukan hanya tempat bekerja. Dari lahan inilah ia kerap memenuhi permintaan warga desa yang menggelar pesta pernikahan atau hajatan keluarga.

“Biasanya mereka minta daun ubi, bunga pepaya, sampai sayur bulu,” katanya.

Haryono adalah petani dari Desa Ollot Satu, Kecamatan Bolangitang Barat. Sayur bulu yang ia maksud adalah rebung, tunas muda bambu yang dalam bahasa lokal sering disebut lomu.

Ia kemudian mengajak berjalan menyusuri kebun menuju rumpun bambu yang tumbuh di pinggir lahan. Dari situlah rebung biasanya dipanen.

Menurut Haryono, memanen rebung tidak bisa sembarangan. Waktu panen sangat menentukan kualitasnya. “Kalau telat sedikit saja, rebungnya sudah keras,” ujarnya.

Di Bolmut, rebung masih menjadi hidangan penting dalam pesta pernikahan. Warga biasanya menyajikannya sebagai sayur di meja makan tamu. 

“Di sini orang menyebutnya sayur acar,” kata Haryono.

Ada juga rebung yang dimasak dengan santan dan disajikan dalam acara keluarga saat rangkaian pesta pernikahan berlangsung.

Jika permintaan datang, Haryono bisa mengumpulkan hingga dua karung rebung untuk satu pesta. Namun belakangan ia mulai merasakan perubahan.

“Sekarang sudah agak susah. Bambu tidak sebanyak dulu,” katanya.

Pemerintah daerah melihat bambu sebagai salah satu potensi sumber daya alam yang perlu dikembangkan. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Abdul Mutoh Dg. Mulisa, mengatakan pembangunan industri daerah seharusnya bertumpu pada potensi lokal yang tersedia.

“Kabupaten Bolmut memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk bambu dan kayu,” ujarnya.

Pemanfaatan sumber daya tersebut, kata dia, perlu dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan Kehati, Rika Anggraini, mengatakan bambu merupakan tanaman dengan banyak manfaat, baik dari sisi ekologi, sosial, maupun ekonomi.

Secara ekologis, bambu memiliki kemampuan penting dalam menjaga ketersediaan air.

“Bambu mampu memperbaiki daerah tangkapan air dan meningkatkan cadangan air bawah tanah,” ujarnya dalam diskusi Forum Bumi yang diselenggarakan Yayasan Kehati bersama National Geographic Indonesia.

Bambu juga dikenal sebagai tanaman yang mudah tumbuh. Ia tidak membutuhkan perawatan intensif dan memiliki laju pertumbuhan sangat cepat dibandingkan banyak jenis tanaman lain. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bambu telah lama menjadi bagian dari tradisi dan budaya.

“Dari lahir sampai meninggal, bambu selalu hadir dalam kehidupan masyarakat,” kata Rika.

Nilai ekonominya pun besar. Batang bambu dapat diolah menjadi berbagai produk, mulai dari peralatan rumah tangga, kerajinan, bahan bangunan, mebel, hingga alat musik. Selain batangnya, bagian lain dari tanaman ini juga dimanfaatkan. Akar bambu kerap dijadikan bahan kerajinan hiasan. Tunas mudanya menjadi rebung yang dikonsumsi sebagai sayuran. Sementara daun bambu dapat digunakan sebagai pakan ternak, bahan teh, hingga pupuk.

Namun, menurut Rika, keberadaan bambu di Indonesia mulai menghadapi ancaman.

Eksploitasi yang tinggi tanpa diimbangi budidaya serta berkurangnya habitat akibat alih fungsi lahan menjadi faktor utama penyebabnya. Jika kondisi ini terus terjadi, keseimbangan ekosistem bisa ikut terganggu.

Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Haruki Agustina, menyebut Indonesia memiliki sekitar 160 spesies bambu.

Tanaman ini memiliki kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar serta tumbuh dengan cepat.

“Bambu memiliki potensi strategis sebagai penggerak ekonomi masyarakat sekaligus pelestarian alam Indonesia,” katanya.

Di Indonesia, bambu telah ditetapkan sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) melalui Peraturan Menteri Kehutanan. Komoditas ini juga masuk dalam kategori unggulan nasional untuk HHBK.

Meski begitu, pemanfaatan bambu masih menghadapi sejumlah kendala.

Produktivitasnya masih relatif rendah karena sebagian besar bambu masih diambil dari alam, dengan produksi sekitar 2–6 ton per hektare.

Selain itu, teknologi pengolahan bambu masih terbatas. Banyak produk yang masih dibuat secara tradisional sehingga nilai tambah dan daya saingnya belum optimal.

Haruki juga menyoroti belum adanya regulasi khusus yang mengatur pengelolaan bambu secara komprehensif.

“Pengelolaan potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan dari bambu masih belum maksimal,” katanya.

Menurut Haruki, pengembangan bambu memerlukan pendekatan yang lebih terintegrasi.

Langkah yang perlu dilakukan antara lain memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk menyiapkan kebijakan yang mendukung.

Selain itu, diperlukan pemetaan potensi bambu, pengembangan pasar, serta peningkatan kapasitas dalam pengelolaannya.

Penguatan kelembagaan juga penting agar strategi pengembangan bambu dapat berjalan secara terintegrasi.

Dengan dukungan kebijakan yang selaras antara pemerintah pusat dan daerah serta keterlibatan masyarakat, akademisi, peneliti, dan sektor swasta, bambu berpotensi menjadi bagian penting dalam upaya menghadapi perubahan iklim.

“Bambu dapat mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat,” kata Haruki.

Bagi petani seperti Haryono, bambu mungkin hanya terlihat sebagai rumpun tanaman di pinggir kebun. Namun dari tunas muda yang dipanen menjadi rebung hingga batang yang diolah menjadi berbagai produk, bambu menyimpan potensi besar, bukan hanya bagi ekonomi masyarakat, tetapi juga bagi masa depan ekosistem.

Share the Post:

Related Posts