LaporIklim

Krisis iklim, satwa liar, dan risiko wabah zoonosis di Sulawesi Utara

Oleh: Trideyna Cahyani

Liputan mendalam ini didukung oleh fellowship dari Lapor Iklim x Yayasan PIKUL. Selengkapnya dapat dilihat melalui tautan berikut:  https://zonautara.com/2026/02/04/krisis-iklim-satwa-liar-dan-risiko-wabah-zoonosis-di-sulawesi-utara/

Bagian tubuh kelalawar yang sudah dibakar dipajang di lapak penjualan daging Pasar Beriman Tomohon, Sulawesi Utara. (Foto: Zonautara.com / Ronny A. Buol)

Dari Hutan ke Pasar:Konsumsi  Kelelawar Di Tengah Krisis Iklim dan Risiko Zoonosis di Sulawesi Utara

Malam itu, Rabu (24/12/2025), sebuah mobil pikap Grandmax hitam bernomor polisi DB 203 GE melaju dari Gorontalo menuju Manado dengan tujuan Pasar Beriman Tomohon. Namun di depan SDN 1 Pinogaluman, Kabupaten Bolaang Mongondow, kendaraan tersebut dihentikan oleh petugas gabungan yang sedang melakukan patroli peredaran tumbuhan dan satwa liar.

Petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara, GAKKUM Manado, Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, Wildlife Conservation Society Indonesia Programme, serta Polres Bolaang Mongondow memeriksa kendaraan tersebut. Sopir berinisial DK awalnya mengaku hanya membawa sekitar 80 ekor anjing titipan.

Namun pemeriksaan menemukan sejumlah coolbox berisi berbagai daging satwa liar, antara lain kelelawar, kus-kus, ular piton, babi hutan, tikus, kucing, serta anjing, baik hidup maupun mati. Bau amis darah dan bangkai menyengat dari bak mobil. Seorang pria berseragam loreng kemudian datang bersama istrinya dan mengaku sebagai pemilik daging tersebut. Ia sempat mencoba bernegosiasi, tetapi petugas menolak. Sopir dan barang bukti kemudian dibawa ke kantor GAKKUM di Manado karena diduga mengangkut satwa tanpa dokumen resmi.

Beberapa pekan kemudian, Minggu (18/1/2025), Zonautara.com mendatangi Pasar Beriman Tomohon—pasar tradisional yang dikenal sebagai tempat penjualan berbagai daging satwa liar. Meski tidak terlalu ramai, aktivitas jual beli tetap berlangsung. Suara pisau menghantam talenan kayu terdengar dari deretan lapak, bercampur aroma darah dan daging. Di meja pedagang, berbagai jenis daging berwarna merah kehitaman digantung, termasuk kelelawar dengan sayap yang direntangkan.

Pasar Beriman Tomohon kerap dijuluki “pasar ekstrem” karena menjual berbagai satwa liar. Pasar ini menjadi salah satu simpul perdagangan satwa liar di Sulawesi Utara yang memunculkan persoalan konservasi, kesehatan publik, hingga perubahan iklim.

Sejumlah laporan investigasi menunjukkan perdagangan tersebut masih berlangsung. Pasokan satwa, terutama kelelawar, bahkan meningkat dan berasal dari berbagai daerah seperti Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Satwa-satwa itu diangkut menggunakan mobil boks menuju Tomohon dan Minahasa.

Fenomena ini tidak hanya soal hukum atau konservasi. Dalam konsep One Health, kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terkait. Perdagangan satwa liar meningkatkan risiko penyakit zoonosis—penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulawesi Utara, Hendrik Rundengan, mengatakan jenis yang paling sering diperdagangkan adalah kelelawar buah hitam (Pteropus alecto). Meski berstatus least concern, perdagangan besar-besaran tetap berpotensi mengganggu ekosistem dan meningkatkan risiko zoonosis.

Akademisi Universitas Sam Ratulangi Manado, Martina Langi, menjelaskan perdagangan satwa liar memperbesar peluang penularan penyakit karena banyak spesies dikumpulkan dalam kondisi stres dan kepadatan tinggi.

“Situasi ini memperbanyak kontak manusia dengan darah atau cairan tubuh satwa, sehingga mempermudah lompatan virus lintas spesies,” ujarnya.

Kelelawar dikenal sebagai reservoir alami berbagai virus. Sistem imun mereka memungkinkan virus bertahan tanpa menimbulkan penyakit serius pada inangnya. Risiko muncul ketika virus tersebut berpindah ke manusia atau hewan domestik melalui kontak langsung.

Di Sulawesi Utara, rantai perdagangan kelelawar melibatkan pemburu di berbagai daerah yang menangkap satwa di gua, hutan sekunder, atau kebun buah. Bangkai atau satwa hidup dimasukkan ke karung dan boks pendingin seadanya, lalu diangkut melalui jalur Trans-Sulawesi menuju pasar.

Di Tomohon, penampung mendistribusikan daging kepada pedagang. Permintaan cenderung stabil, bahkan meningkat saat perayaan keagamaan atau hajatan adat.

Riset Sheherazade dan Susan M. Tsang memperkirakan sekitar 500 ton atau sekitar 1,4 juta ekor kelelawar diperdagangkan setiap tahun untuk memasok delapan pasar utama di Sulawesi Utara.

Pedagang di pasar Tomohon mengakui sebagian besar pasokan kini datang dari luar daerah. Ketika stok di Sulawesi berkurang, pasokan bahkan bisa datang dari Kalimantan.

Perubahan iklim turut memperburuk situasi ini. Perubahan suhu dan pola hujan memengaruhi ketersediaan pakan alami kelelawar sehingga mendorong mereka berpindah lebih dekat ke permukiman manusia.

Menurut Martina Langi, tekanan ekologis seperti panas ekstrem, kekeringan, dan perubahan habitat dapat menurunkan daya tahan tubuh satwa serta meningkatkan pelepasan virus.

“Masalahnya bukan hanya pada satwanya, tetapi pada meningkatnya kontak manusia dengan satwa akibat perubahan perilaku dan tekanan lingkungan,” katanya.

Data BMKG Sulawesi Utara menunjukkan suhu rata-rata meningkat lebih dari satu derajat Celsius dalam satu dekade terakhir. Tahun 2023 bahkan tercatat sebagai tahun terpanas akibat fenomena El Niño.

Bagi sebagian masyarakat Minahasa, konsumsi kelelawar bukan hal baru. Hidangan paniki telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner yang kerap hadir dalam pesta atau perayaan.

Namun dokter hewan dari Dinas Pertanian Minahasa, Louis Kumaunang, menilai praktik perdagangan dan pengolahan daging satwa liar berisiko tinggi menularkan penyakit, terutama jika penanganannya tidak higienis.

Di sisi lain, sejumlah akademisi menilai ketergantungan pada satwa liar sebenarnya mulai berkurang. Dahulu konsumsi satwa buruan berkaitan dengan keterbatasan sumber protein, tetapi kini pilihan pangan semakin beragam, terutama di kalangan generasi muda.

Meski Indonesia memiliki regulasi perlindungan satwa liar, implementasinya masih menghadapi berbagai kendala. Pengawasan di jalur distribusi dan pasar tradisional sering tidak konsisten, sementara keterbatasan personel membuat pengawasan sulit dilakukan secara menyeluruh.

Pendekatan yang lebih realistis, menurut para peneliti, adalah mengurangi risiko melalui perbaikan higiene pasar, penggunaan alat pelindung diri bagi pedagang, serta pengawasan terpadu berbasis pendekatan One Health. Upaya ini juga perlu disertai komunikasi risiko yang menghormati budaya lokal serta penyediaan alternatif sumber protein bagi masyarakat.

Sementara itu, Balai GAKKUM KLHK menyatakan kasus pengangkutan satwa liar yang terjaring patroli akhir tahun lalu telah dinaikkan ke tahap penyidikan karena ditemukan unsur pidana.

Share the Post:

Related Posts