Oleh: Nurul Fitria
Liputan mendalam ini didukung oleh fellowship dari Lapor Iklim x Yayasan PIKUL. Selengkapnya dapat dilihat melalui tautan berikut: https://mongabay.co.id/2026/02/13/ketika-pulau-bengkalis-terus-terkikis/

Asih (bukan nama sebenarnya) duduk di kursi kayu di depan rumahnya yang menghadap laut. Angin meniup rambutnya yang beruban dan mengibaskan daster kuning yang ia kenakan. Tatapannya kosong ke arah laut saat tim Mongabay Indonesia melintas. Rumah papan milik perempuan 52 tahun itu terlihat memudar diterpa angin dan garam laut. Kini jaraknya hanya sekitar tujuh meter dari tebing daratan yang langsung jatuh ke laut. Saat air pasang, permukaan laut hanya terpaut sekitar 20 sentimeter dari daratan. Setiap deburan ombak membawa sesai,butiran tanah gambut hitam yang terkikis dari tebing dan hanyut ke laut.
Asih tinggal di Gang Nelayan 2, pesisir Desa Prapat Tunggal, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau. Di gang kecil yang langsung menghadap laut itu terdapat sekitar sepuluh rumah warga. Jalan desa yang sudah disemen berakhir tepat di depan rumahnya. Setelah itu hanya tanah gambut yang semakin gelap dan basah mendekati bibir laut.
Tuti, tetangganya yang telah tinggal di sana selama 45 tahun, mengatakan daratan terus terkikis dan laut semakin mendekat. “Dulu daratan masih jauh di sana,” ujarnya sambil menunjuk tiang pancang yang kini berada di tengah laut. Menurutnya, warga tidak punya banyak pilihan selain bertahan. “Tak tahu ape nak dibuat, tunggu macam mane kata orang dari desa la,” katanya.
Pada awal 2000-an, daratan masih berjarak sekitar 80–100 meter dari laut. Namun garis pantai terus mundur akibat abrasi. Bagi sebagian warga, pindah bukan perkara mudah karena harga tanah mahal dan penghasilan terbatas. Saat pasang keling, fenomena naiknya air laut ke daratan, air bisa mencapai lutut warga.
Abrasi menghantam desa pesisir
Kondisi yang dialami Asih dan Tuti juga terjadi di desa lain di Pulau Bengkalis. Di Desa Pambang Pesisir, misalnya, sejumlah bangunan yang dulu berdiri di tepi pantai kini telah hilang.“Sebelum 2017 di pesisir ini ada rumah warga, sekolah dasar, dan masjid. Sekarang sudah jatuh ke laut,” kata Desi Rizal, Sekretaris Desa Pambang Pesisir.
Menurutnya, luas desa yang pada 2017 sekitar 334 hektare kini telah berkurang sekitar lima hektare akibat abrasi. Beberapa kuburan lama warga juga ikut tersapu laut. Abrasi juga merusak lahan perkebunan. Warga memperkirakan sekitar 20 hektare kebun hilang dalam 40 tahun terakhir. Dahulu kawasan ini memiliki ladang padi serta kebun durian, kelapa, dan berbagai buah-buahan.
“Sekarang yang tinggal warga tanam dekat rumah saja,” kata Rizal.
Di pesisir desa terlihat batang-batang kelapa mati tergeletak di bawah tebing daratan, sementara sebagian lainnya menggantung di tepi tebing menunggu waktu jatuh. Kondisi serupa terjadi di Desa Teluk Pambang. Tokoh masyarakat setempat, Muhammad Nasir, mengatakan sekitar 20 meter daratan hilang dalam dua tahun terakhir. “Dulu air laut masih lebih dari 200 meter dari pendopo desa. Sekarang tinggal sekitar 100 meter,” ujarnya.
Warga sempat membangun penahan ombak sederhana dari kayu pancang dan ban bekas, namun daratan di sekitarnya tetap terkikis. Di Desa Bantan Sari, Kepala Dusun Tua Tengah Endriadi mengatakan banyak kebun karet dan kelapa warga yang telah tenggelam. “Sudah banyak kebun warga yang rusak dan hilang. Ini tentu berdampak pada ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Bagi Muis, salah satu tokoh masyarakat setempat, abrasi menyimpan kenangan pahit. Ia menunjuk ke arah laut. “Itu dulu kebun bapak saya di situ. Tahun 1975 saya masih kecil, saya motong karet di sana,” katanya. Dalam sekitar 50 tahun terakhir, garis pantai di wilayah itu telah mundur hampir satu kilometer. Cerita serupa datang dari desa-desa lain di utara Pulau Bengkalis seperti Simpang Ayam, Jangkang, Deluk, Mentayan, hingga Sekodi. Banyak warga akhirnya memilih pindah lebih jauh ke daratan.
Mengapa abrasi begitu cepat?
Menurut Dr. Eng. Sigit Sutikno dari Universitas Riau, cepatnya abrasi di Bengkalis berkaitan dengan kondisi tanah pulau tersebut yang didominasi gambut. Data Wetlands International menunjukkan sekitar 85 persen wilayah Pulau Bengkalis merupakan lahan gambut dengan ketebalan hingga lebih dari empat meter. “Pulau Bengkalis ini unik karena terbentuk dari tanah gambut. Tapi kondisi ini juga membuatnya sangat rentan terhadap abrasi,” kata Sigit.
Tanah gambut memiliki berat jenis lebih ringan dibanding tanah mineral seperti pasir sehingga mudah terbawa arus ketika dihantam gelombang. Selain faktor alami, aktivitas manusia juga memperparah kondisi tersebut. Alih fungsi lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit sejak awal 2000-an menyebabkan pembukaan kanal serta berkurangnya hutan mangrove yang sebelumnya berfungsi menahan gelombang. “Ketika mangrove masih banyak, laju abrasi tidak signifikan. Setelah alih fungsi besar-besaran menjadi sawit, abrasi meningkat tajam,” jelasnya.
Perubahan iklim memperparah
Pulau Bengkalis berada di tengah Selat Malaka sehingga pesisirnya sangat dipengaruhi angin dan arus laut. Dalam satu dekade terakhir kecepatan angin pada musim angin utara dapat mencapai 20–30 knot, memicu gelombang yang lebih kuat menghantam pantai. Selain itu, kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim juga memperparah abrasi. Penelitian menunjukkan permukaan laut di Selat Malaka meningkat sekitar 0,39 sentimeter per tahun. Kombinasi gelombang kuat, kenaikan muka laut, dan hilangnya mangrove membuat pesisir Bengkalis semakin rentan.
Penelitian Sigit menunjukkan dalam 35 tahun terakhir sekitar 1.700 hektare daratan Pulau Bengkalis telah hilang akibat abrasi, setara puluhan lapangan sepak bola setiap tahun. “Jika tren ini terus berlanjut, dalam 50 sampai 80 tahun ke depan sebagian besar wilayah pesisir Bengkalis bisa hilang,” katanya.
Bagi warga seperti Asih dan Tuti, ancaman itu bukan sekadar angka penelitian. Laut yang setiap hari mereka lihat dari depan rumah perlahan terus mendekat.
- Editor: laporiklim

