
Cuaca ekstrem yang terus berlangsung dalam beberapa bulan terakhir semakin mengancam keberlangsungan hidup nelayan kecil di berbagai wilayah pesisir di Indonesia.
Survey yang dilakukan di 14 provinsi oleh Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) pada bulan Januari 2025 menemukan bahwa 95% nelayan di lebih dari 350 desa pesisir terdampak cuaca buruk. Survey ini juga menemukan bahwa 63% nelayan bahkan terpaksa menghentikan aktivitas melaut sementara akibat tingginya risiko keselamatan di laut.
Uthon Mantang, petani tambak udang vaname dari Desa Iyok, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara bercerita bahwa curah hujan dan temperatur ekstrem dapat mengakibatkan udang menjadi malas makan dan mati apabila tidak cepat ditangani.
Meski demikian, beliau masih menekankan pentingnya air tawar yang dibawa oleh hujan. “Jika hujan, ya hujan tapi jangan ekstrem,”katanya.
Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Terjadi di Februari 2026
Berdasarkan data dari Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara BMKG, pada bulan Februari 2026, 88,8% lokasi di Sulawesi Utara akan mengalami curah hujan dengan kategori menengah dan 11,2% lokasi diprediksi mengalami curah hujan tinggi.
Cuaca ekstrem tersebut tidak hanya membahayakan nelayan, tetapi juga berdampak pada kerusakan infrastruktur pesisir serta menurunnya produksi perikanan tangkap. Kondisi ini dinilai semakin memperberat beban nelayan kecil yang selama ini bergantung pada hasil laut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Potensi Pertanian Budidaya dalam Mendorong Ekonomi Rakyat

Dengan potensi tambak seluas 820 ha yang tersebar di enam kecamatan, Kabupaten Bolmut memiliki potensi besar di sektor perikanan, terutama perikanan budidaya. Data dinas perikanan Bolmut tahun 2024 produksi perikanan budidaya mencapai 121,9 ton, dengan penyumbang terbanyak dari udang vaname yang mencapai 76,5 ton.
Uton sendiri menyatakan bahwa di masa panen terakhir, panen udangnya mencapai 1,7 ton dengan nilai sekitar Rp100 juta.
Menurut Prof Dr. Ir. Yuniarti Koniyo, MP, dosen perikanan dan ilmu kelautan Universitas Negeri Gorontalo (UNG), budidaya udang vaname dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di Kabupaten Bolmut.
Karenanya, diperlukan peningkatan pemanfaatan potensi lahan tambak dan peningkatan produktivitas usaha budidaya baik secara kuantitas dan kualitas dengan memaksimalkan semua komponen usaha dengan didukung sarana dan prasarana yang memadai.
Perlunya Respons Terpadu untuk Perlindungan Nelayan
Ketua Umum KNTI, Dani Setiawan, mendorong adanya respons terpadu antara pemerintah pusat dan daerah melalui penguatan perlindungan nelayan, penyaluran bantuan yang tepat sasaran, dukungan adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim, serta percepatan pemulihan ekonomi dan perbaikan infrastruktur di kawasan pesisir.

“Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016, pemerintah wajib memberikan perlindungan kepada nelayan. Di tengah cuaca ekstrem, risiko melaut semakin tinggi dan tidak bisa ditanggung nelayan seorang diri,” kata Dani, Sabtu 24 Januari 2026.
Menurutnya, selain dibekali dengan informasi prakiraan cuaca, nelayan kecil di wilayah pesisir juga membutuhkan skema perlindungan sosial dan ekonomi yang lebih kuat dan konkret agar tidak terpaksa melaut dalam kondisi berbahaya.
“Menurunnya produksi perikanan tangkap, perikanan budidaya, serta garam akan mempengaruhi rantai perikanan lainnya, berpotensi mengganggu penyediaan pangan nasional, serta menghambat laju hilirisasi sektor kelautan dan perikanan,” ujar Dani.
Dirinya menekankan pentingnya penguatan tolong menolong dan gotong-royong sesama warga serta kolaborasi yang erat antara pemerintah dengan nelayan untuk keberlanjutan kehidupan pesisir Indonesia di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata.
- Editor: laporiklim


