
Syahrir Hassan, kepala desa Busisingo Utara, Kecamatan Sangkub, Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) menceritakan kekhawatirannya akan fenomena abrasi pantai yang terus terjadi di desanya. Ditemui awal tahun ini, Syahrir bercerita bahwa abrasi pantai ini yang terjadi di desanya mengakibatkan daratan berkurang sekitar 30 meter dalam 10 tahun terakhir.
“Jika melihat dampak abrasi saat ini, Busisingo Utara bakal tenggelam dalam lima tahun kedepan,” ujarnya. Fenomena ini terus terjadi setiap tahun, dan semakin parah sejak bulan November tahun lalu ketika banyak pohon kelapa warga yang hilang akibat abrasi.
Syahrir menyatakan bahwa pihaknya selalu menyampaikan kekhawatirannya perihal abrasi di wilayah ini dalam musrenbang dan reses-reses anggota DPRD.
Hal serupa juga dirasakan oleh Felmawati. Warga Bolangitang II yang rumahnya mengatakan abrasi yang menerjang desanya saat ini semakin parah dalam dua tahun terakhir. “Pohon kelapa yang hidup beberapa tahun dan bahkan sudah berbuah. Roboh hanya satu dua hari,”katanya.
Sementara itu, Desmon Pua, Kepala desa Bolangitang II menyatakan bahwa kalau tidak segera dibangun tanggul penahan abrasi, 86 kepala keluarga di Dusun III terancam kehilangan rumahnya dalam satu atau dua tahun lagi.
Peningkatan Risiko Abrasi di Daerah Bolmut
Berdasarkan peta Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah (BPPIKHL) wilayah Sulawesi tahun 2018, Desa Bolangitang II, Kecamatan Bolangitang Barat, termasuk dalam 10 desa di Provinsi Sulawesi Utara yang rentan mengalami dampak negatif perubahan iklim.
Dampak dari perubahan iklim tersebut dapat berupa terjadinya beberapa bencana alam yaitu longsor, banjir, kenaikan air laut, kekeringan. Pemetaan daerah rentan perubahan iklim ini dapat menjadi acuan untuk instansi agar dapat memfokuskan pada daerah/desa dengan tingkat kerentanan yang tinggi.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Bolmut, Syaiful Rizal Samsudin menyebutkan bahwa abrasi di pesisir pantai Bolangitang II dan beberapa desa pesisir lainnya telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan sehingga wilayah-wilayah ini ditetapkan sebagai zona prioritas I penanganan abrasi.
“[Abrasi di lokasi tersebut telah] mengancam pemukiman warga, fasilitas publik, dan lahan pertanian atau perkebunan di tepi pantai. Kerusakan garis pantai telah terlihat jelas dan membutuhkan intervensi segera,” katanya saat dihubungi Lapor Iklim.


Degradasi Mangrove dan Peningkatan Abrasi
Berdasarkan hasil analisa citra satelit yang dilakukan oleh tim pakar penyusunan dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH), Bolmut telah kehilangan luasan hutan mangrove mencapai 61,94 Hektar (Ha) dalam beberapa tahun terakhir, dengan bagian terparah berada di Bintauna, Sangkub, dan Bolangitang Timur.
Ekosistem mangrove yang baik berperan sebagai peredam alami energi pasang dan penjaga kestabilan sedimen pesisir. “Ketika mangrove berkurang, energi pasang tidak lagi teredam dengan baik, sehingga fluktuasi pasang yang semakin besar akan langsung berdampak ke daratan pesisir,”ungkap Aswar Anas, ahli Geospasial lembaga pengabdian penelitian dan pengembangan Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar.
Beliau juga menggambarkan tentang pasang surut di Bolmut mulai membesar. Pada tahun 2020–2022, tinggi pasang maksimum masih cenderung stabil. Memasuki periode 2023 hingga 2025, puncak pasang terlihat lebih sering mencapai nilai yang lebih tinggi, sementara surut minimumnya juga semakin dalam.
Meskipun tidak terlihat lonjakan ekstrem yang tiba-tiba, Anas menyatakan bahwa ada peningkatan muka air laut sebesar 30-50 cm secara bertahap dalam lima tahun terakhir.
Dalam kondisi seperti ini, pasang maksimum yang sebelumnya masih aman bisa berubah menjadi pasang ekstrem, terutama ketika bertepatan dengan fase bulan tertentu atau dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan gelombang.

“Ketika mangrove berkurang, energi pasang tidak lagi teredam dengan baik, sehingga fluktuasi pasang yang semakin besar akan langsung berdampak ke daratan pesisir,”ungkap Aswar.
Dampak yang paling mungkin dirasakan adalah meningkatnya kejadian banjir pesisir atau rob. Pasang maksimum yang semakin tinggi dan sering dapat menyebabkan genangan berulang, terutama di area rendah dan bekas sebaran mangrove.
“Selain itu, kondisi ini juga berpotensi mempercepat erosi pantai dan memperluas intrusi air laut ke daratan, yang pada jangka panjang dapat memperburuk kondisi lingkungan dan mengganggu aktivitas masyarakat pesisir,”jelasnya.
Meskipun Anas mengakui bahwa ada faktor lain yang berperan, seperti topografi bawah laut and anomali lau dalam satu-dua dekade terakhir, hal ini masih membutuhkan kajian yang komprehensif dan panjang. “Tapi untuk saat ini ya ekosistem mangrove itu yang menjadi perhatian,” ujarnya.
- Editor: laporiklim


