Oleh: Mia Margaretha Holo
Liputan mendalam ini didukung oleh fellowship dari Lapor Iklim x Yayasan PIKUL. Selengkapnya dapat dilihat melalui tautan berikut: https://ntt-post.com/lingkungan/nelayan-perempuan-sikka-terhempas-cuaca-ekstrem/

Merawati yang tengah menjaring ikan di perairan Ndete, Laut Flores, pada pertengahan November 2025 tiba-tiba dikejutkan hujan deras dan gelombang yang mengguncang perahu kecilnya. Langit yang semula cerah berubah gelap dalam hitungan menit. Arus laut menyeret sampannya menjauh dari pantai.
Dari jarak sekitar tiga meter, rekannya Hamjanur berteriak dalam bahasa Bajo, “Merawati, paduainu batu labu (turunkan jangkar).” Dengan tangan gemetar, Merawati segera menurunkan jangkar agar perahunya tidak terseret lebih jauh ke tengah laut.
Sambil menunggu arus mereda, ia meneguk air dari botol bekalnya dan berdoa agar bisa pulang selamat. Meski hanya sekitar 400 meter dari pantai, jarak itu terasa sangat jauh di tengah cuaca buruk. Saat azan subuh terdengar, ia akhirnya mendayung pulang dengan tangkapan hanya tiga ekor ikan kecil, tidak cukup untuk dijual.
Merawati adalah perempuan keturunan suku Bajo yang tinggal di Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Desa pesisir ini berjarak sekitar 31 kilometer dari Kota Maumere. Dari total 2.192 penduduk, sekitar 184 orang bekerja sebagai nelayan.
Sebagai nelayan tradisional, Merawati terbiasa membaca tanda-tanda alam, siklus angin, arah awan, dan musim ikan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tanda-tanda itu sering meleset. “Siangnya cerah sekali, tapi malam tiba-tiba hujan,” katanya.
Ia merasa musim semakin tidak menentu. Dulu awan gelap sudah cukup menjadi tanda hujan akan datang. Kini cuaca bisa berubah mendadak tanpa tanda jelas. Dalam sepuluh tahun terakhir, ia juga merasakan kemarau semakin panjang sementara musim hujan datang tidak teratur.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut perubahan ini berkaitan dengan perubahan iklim. Prakirawan Klimatologi II Kupang, Ryan Sudrajat, mengatakan suhu perairan Indonesia meningkat sekitar 0,19 derajat Celsius setiap 10 tahun, membuat wilayah maritim lebih rentan terhadap cuaca ekstrem.
Kenaikan suhu laut juga memicu fenomena marine heatwave yang dapat menyebabkan pemutihan karang, migrasi ikan, hingga kematian biota laut. Kondisi ini membuat nelayan tradisional semakin sulit mendapatkan ikan karena populasi ikan berpindah ke perairan yang lebih jauh.
BMKG juga mencatat perubahan tinggi gelombang di wilayah NTT dalam 10–15 tahun terakhir. Jika sebelumnya gelombang berkisar 1,25–2,5 meter, kini pada musim tertentu dapat mencapai lebih dari empat meter. Pada periode Oktober hingga April juga sering terdeteksi bibit siklon tropis yang memicu hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Bagi nelayan seperti Merawati, perubahan cuaca bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga penghasilan. Ia mengeluh hasil tangkapan kini jauh berkurang dibandingkan beberapa dekade lalu. Nelayan kini harus mendayung lebih jauh dari pantai untuk mendapatkan ikan. “Kalau tidak, kami tidak dapat apa-apa,” katanya.
Ia juga merasakan suhu laut semakin panas. Karena itu ia jarang melaut pada siang hari. “Kalau terlalu panas, rasanya seperti menggigit kulit,” ujarnya. Air laut yang semakin keruh juga membuat ikan sulit didapat. “Air laut sekarang tidak jernih seperti dulu. Kadang bercampur sampah, ikan jadi tidak naik,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Hamjanur. Ia sering pulang dengan tangkapan hanya beberapa ekor ikan meski memancing semalaman. Padahal mereka sudah melaut hingga 400–500 meter dari pantai. “Kadang hanya delapan atau tiga ekor. Paling banyak 15 ekor,” katanya.
Di Ndete, ada tujuh nelayan perempuan yang rutin melaut: Merawati, Hamjanur, Asri Jani, Narwise Tani, Sunarti, Nawari, dan Marsiana. Mereka menggunakan sampan kayu tanpa mesin dengan alat tangkap sederhana berupa pancing dan kail.
Jika badai datang, mereka hanya mengandalkan jangkar dan pelampung seadanya.
Marsiana, misalnya, menjadi nelayan sejak suaminya meninggal tujuh tahun lalu. Ia harus meminjam perahu milik orang lain untuk melaut. “Tidak ada yang membantu saya kecuali diri saya sendiri,” katanya.
Sekali melaut ia biasanya hanya mendapatkan 10–15 ekor ikan. Saat cuaca buruk, semalaman di laut ia kadang hanya membawa pulang tiga ekor ikan atau bahkan tidak mendapat apa-apa. Penghasilannya paling banyak sekitar Rp25 ribu sehari, yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak-anak.
Para nelayan perempuan di Ndete juga mengaku belum pernah menerima bantuan khusus atau sosialisasi tentang risiko melaut. Mereka bahkan tidak memiliki kartu nelayan yang memungkinkan akses bantuan alat tangkap atau modal usaha. “Mungkin karena mereka pikir nelayan itu hanya laki-laki,” kata Merawati.
Bagi mereka, harapan sebenarnya sederhana: memiliki sampan sendiri agar tetap bisa melaut. Meski usia semakin tua dan hasil tangkapan semakin sedikit, mereka merasa tidak punya pilihan lain. “Risiko melaut makin tinggi, hasilnya sering mengecewakan. Tapi siapa yang mau kasih makan kami para janda ini,” kata Hamjanur.
Merawati sendiri berkata ia mungkin baru berhenti melaut ketika tubuhnya tak lagi sanggup. “Jadi nanti mati dulu baru saya berhenti melaut.”
- Editor: laporiklim


