Oleh: Dita Anis Zafani
Liputan mendalam ini didukung oleh fellowship dari Lapor Iklim x Yayasan PIKUL. Selengkapnya dapat dilihat melalui tautan berikut: https://projectarek.id/esai-opini/live-shopping-dan-krisis-iklim

Dalam satu ruang digital, host live shopping mempromosikan produk secara langsung sambil berinteraksi dengan penonton. Mereka berperan sebagai penjual, penghibur, sekaligus layanan pelanggan. Konsumen dapat bertanya, memperoleh diskon terbatas waktu, lalu terdorong membeli. Fenomena ini berkembang pesat. Secara global, nilai live commerce diproyeksikan melampaui USD 250 miliar pada 2034, jauh meningkat dari sekitar USD 14,9 miliar pada 2024. Di Indonesia, transaksi berbasis video juga semakin populer melalui platform seperti Shopee Live dan TikTok Live.
Interaksi real time membuat keputusan membeli tidak lagi sepenuhnya rasional. Respons host, komentar audiens, dan unsur hiburan memicu kedekatan emosional yang mendorong konsumsi. Live shopping pun membentuk pola konsumerisme baru dalam ekonomi digital.
Gaya Hidup Konsumerisme
Konsumerisme terjadi ketika pembelian barang tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan nilai simbolik dan identitas sosial. Diskon terbatas waktu, stok terbatas, dan interaksi langsung membuat konsumen terdorong membeli meski tidak mendesak.
Di balik promosi yang terlihat ringan, terdapat rantai produksi besar yang membutuhkan energi, air, dan bahan baku dalam jumlah besar. Produksi massal, pengiriman logistik, serta limbah industri meningkatkan emisi karbon dan tekanan terhadap lingkungan.
Dampak terhadap Krisis Iklim
Sejak 2000, produksi tekstil global meningkat dua kali lipat dan menyumbang sekitar 8–10 persen emisi karbon dunia. Di Indonesia, limbah tekstil diperkirakan mencapai lebih dari 2,3 juta ton per tahun. Lonjakan transaksi daring juga memperbesar jejak karbon logistik global.
Selain itu, infrastruktur digital seperti ponsel dan pusat data, bergantung pada ekstraksi mineral seperti nikel dan kobalt, yang sering memicu deforestasi dan konflik sosial. Dengan demikian, konsumerisme digital tidak hanya memengaruhi pasar, tetapi juga memperluas tekanan terhadap lingkungan.
Host Live Shopping sebagai Pekerjaan Baru
Pertumbuhan ekonomi digital juga melahirkan jenis pekerjaan baru, salah satunya host live shopping. Pekerjaan ini terlihat fleksibel, tetapi sering berada dalam kondisi rentan. Banyak host bekerja berjam-jam setiap hari dengan upah relatif rendah dan komisi kecil, bahkan tanpa jaminan sosial. Dalam beberapa kasus, pekerja juga tidak memiliki kontrak tetap sehingga mudah kehilangan pekerjaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi digital tidak selalu menghadirkan kesejahteraan kerja yang stabil.
Fenomena ini mencerminkan munculnya generasi pekerja yang hidup dalam ketidakpastian kerja, sering disebut sebagai precarious generation. Mereka bekerja dalam sistem fleksibel tanpa kepastian karier maupun perlindungan sosial yang memadai. Paradoksnya, host live shopping menjadi bagian dari sistem ekonomi yang mempercepat produksi dan konsumsi, tetapi pada saat yang sama mereka juga menghadapi kerentanan ekonomi dalam sistem tersebut.
Konsumerisme digital menunjukkan ironi pembangunan ekonomi: pertumbuhan transaksi meningkat, tetapi tekanan terhadap lingkungan dan kerentanan kerja juga bertambah. Kesadaran bahwa setiap barang memiliki jejak ekologis dapat mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam konsumsi.
Membeli barang sesuai kebutuhan dan mengurangi pola konsumsi berlebihan dapat menjadi langkah kecil untuk menekan dampak ekologis dari ekonomi digital yang semakin berkembang.
- Editor: laporiklim


