Oleh: Ahmad H Ramdhani
Liputan mendalam ini didukung oleh fellowship dari Lapor Iklim x Yayasan PIKUL. Selengkapnya dapat dilihat melalui tautan berikut: https://mongabay.co.id/2026/02/13/kala-perubahan-iklim-hadirkan-ancaman-ganda-di-pesisir-lombok/

Foto: Ahmad Ramdhani/Mongabay Indonesia.
Stunting di pesisir Lombok Timur, terutama di Kecamatan Jerowaru, menjadi persoalan kesehatan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, Lombok Timur mencatat prevalensi stunting tertinggi di Nusa Tenggara Barat, mencapai 33% pada 2025—naik dari 27% pada 2023.
Di antara berbagai penyebabnya, perubahan iklim kerap luput dari perhatian. Laporan UNICEF tahun 2024 menyebut perubahan iklim berdampak langsung pada ketahanan pangan dan gizi anak di wilayah rentan seperti pesisir. Gangguan sistem pangan, krisis air bersih, serta meningkatnya penyakit berbasis lingkungan memperbesar risiko stunting.
Desa Jerowaru adalah desa pesisir yang kehidupan warganya bergantung pada laut. Namun perubahan iklim membuat nelayan sulit memprediksi musim tangkap, meningkatkan risiko gelombang tinggi, dan mendorong ikan menjauh akibat kenaikan suhu laut. Dampaknya, pendapatan keluarga nelayan menurun.
Suara tangis bayi memecah pagi di Dusun Jor, Desa Jerowaru. Sulastri, bukan nama sebenarnya, menggendong anak bungsunya yang demam dan diare. Tubuh bayi itu tampak kurus. Catatan posyandu menunjukkan anaknya mengalami stunting. “Berat badan anak seusianya seharusnya 11–18 kilogram, tapi beratnya hanya 8,3 kilogram,” kata Julia, tenaga kesehatan di Puskesmas Jerowaru. Tinggi badannya juga di bawah standar.
Menurut World Health Organization (WHO), stunting adalah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai tinggi badan di bawah standar usia. Dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga perkembangan kognitif, daya tahan tubuh, dan produktivitas di masa depan.
Sulastri menikah pada usia 15 tahun. Kini di usia 23 tahun ia merawat anak dengan kondisi kesehatan rentan, sementara ekonomi keluarga bergantung pada hasil laut yang tidak menentu. “Bukan tidak perhatian, kami sudah berusaha semampunya. Tapi penghasilan kami tidak menentu,” katanya.
Perubahan iklim memperburuk kondisi tersebut. Penelitian IPB University menunjukkan sekitar 78% masyarakat pesisir Teluk Jor bergantung pada hasil laut. Namun riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat kenaikan suhu laut, anomali cuaca, serta kenaikan muka air laut di wilayah itu.
Menurut Sukuryadi, akademisi lingkungan dari Universitas Muhammadiyah Mataram, perubahan iklim memicu pola angin yang tidak menentu, hujan ekstrem di luar musim, dan gelombang tinggi yang sulit diprediksi nelayan. “Kenaikan suhu laut juga memicu pemutihan karang dan merusak habitat ikan,” katanya.
Akibatnya ikan semakin menjauh, sementara air laut semakin mendekati permukiman. “Dulu kami tahu kapan musim ikan datang. Sekarang sulit ditebak,” kata Maya Apriadi, nelayan Jerowaru.
Ketika tangkapan berkurang, konsumsi protein keluarga dan ekonomi rumah tangga ikut terdampak. Pendapatan nelayan sering kali hanya Rp600 ribu hingga Rp800 ribu per bulan, sementara kebutuhan rumah tangga bisa mencapai Rp2 juta.
Selain faktor ekonomi, pernikahan dini juga berkontribusi terhadap tingginya stunting di wilayah ini. Kehamilan pada usia muda meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah dan gangguan pertumbuhan. Di Jerowaru, praktik ini masih cukup umum.
Menurut Kepala Puskesmas Jerowaru, Munawir Subhan, stunting di wilayah pesisir tidak hanya terkait gizi, tetapi juga kondisi sosial dan lingkungan, seperti sanitasi buruk, keterbatasan air bersih, dan pendapatan keluarga yang bergantung pada laut. Sanitasi yang tidak memadai juga meningkatkan risiko infeksi seperti diare, yang membuat nutrisi anak tidak terserap optimal.
Pemerintah telah menjalankan berbagai program penurunan stunting, mulai dari pendampingan ibu hamil hingga pemberian makanan tambahan. Namun wilayah pesisir membutuhkan pendekatan lintas sektor. “Intervensi gizi saja tidak cukup. Harus dibarengi perbaikan sanitasi, pencegahan pernikahan dini, dan penguatan ekonomi keluarga,” ujar Munawir.
Di beranda rumahnya, Sulastri menimang anaknya yang mulai terlelap. Harapannya sederhana: anaknya tumbuh sehat. “Yang penting anak saya sehat,” katanya.
Di pesisir Lombok Timur, harapan itu tidak hanya bergantung pada makanan bergizi, tetapi juga pada laut yang semakin tak menentu, air bersih yang semakin langka, serta kesadaran bahwa krisis iklim juga menentukan masa depan anak-anak.
- Editor: laporiklim
