LaporIklim

Ketika Perubahan Iklim Pengaruhi Lebah Hutan Meratus

Oleh: Rendy Tisna

Liputan mendalam ini didukung oleh fellowship dari Lapor Iklim x Yayasan PIKUL. Selengkapnya dapat dilihat melalui tautan berikut: https://mongabay.co.id/2026/02/12/ketika-perubahan-iklim-pengaruhi-lebah-hutan-meratus/

Lebah yang bersarang di pohon Agathis labillardieri dikenal sebagai damar putih atau mimpiring dalam bahasa lokal setinggi sekitar 50 meter di kawasan Pegunungan Meratus menjadi salah satu gambaran penting hubungan antara alam dan serangga penyerbuk. Lebah merupakan penyerbuk alami bagi tanaman berbunga dan berkontribusi terhadap sekitar 35 persen produksi tanaman pangan dunia. Namun perubahan iklim dan alih fungsi lahan semakin mengancam keberlangsungan populasinya. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak lebah madu liar berpindah sarang karena habitat hutannya terganggu, bahkan bermigrasi ke kawasan perkotaan yang memiliki lebih banyak tanaman berbunga. Di saat yang sama, dalam lebih dari lima dekade terakhir, suhu rata-rata tercatat naik hampir 1 derajat Celcius dibandingkan kondisi awal pengamatan, dengan anomali tertinggi terjadi pada 2024.

 Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia.

Hingga akhir Januari 2026, Syahrianto, pengepul madu skala kecil dari Desa Hampang, Kabupaten Kotabaru, belum menerima satu tetes madu hutan dari Pegunungan Meratus. Ia biasanya mengandalkan para pemuai pemburu madu yang memanjat pohon tinggi untuk mengambil sarang lebah. Namun komunikasi dengan mereka sulit dilakukan karena tidak adanya jaringan seluler di kawasan pegunungan. Stok madu siap jual dalam botol 600 mililiter di rumahnya sudah habis, sementara permintaan tetap datang. Terakhir kali ia menerima madu pada Desember 2025 sebanyak 50 liter, yang sebenarnya merupakan hasil panen dua tahun sebelumnya.

Padahal, dalam kondisi normal, Syahrianto mampu menampung hingga 500 liter madu per tahun dari sekitar 20 pemuai yang berasal dari sejumlah desa di kawasan Meratus. Namun kini, dari ratusan pohon yang biasa menjadi lokasi sarang lebah, hampir tidak ada lagi yang dihuni koloni. Kondisi serupa juga dialami Alli, seorang pemuai di Desa Juhu, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Bersama sembilan rekannya, ia belum menemukan sarang lebah yang terisi. Padahal musim hujan biasanya menjadi waktu lebah berkembang. Ia menduga berkurangnya lebah berkaitan dengan tanaman yang tidak berbuah maksimal sehingga sumber pakan lebah berkurang.

Cuaca ekstrem juga membuat proses pemanenan madu semakin berisiko. Hujan dapat turun sewaktu-waktu, membuat dahan pohon menjadi licin dan berbahaya untuk dipanjat. Padahal sarang lebah biasanya berada di ketinggian lebih dari 40 meter dan proses pemanenan sering dilakukan pada malam hari. Karena kondisi tersebut, Alli sementara memilih mencari pekerjaan lain di kota sambil menunggu sarang lebah kembali terisi.

Di dataran rendah, Husni Naparin, pengepul madu hutan berskala besar di Banjarmasin, juga mengakui pasokan madu semakin langka. Ia biasanya mengambil madu langsung dari berbagai wilayah di Kalimantan untuk memastikan keasliannya. Namun pada Januari 2026 ia hanya menerima sekitar lima liter madu. Menurutnya, intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan banyak wilayah pemanenan terendam banjir, sehingga akses ke lokasi menjadi sulit dan biaya operasional meningkat.

Selain faktor cuaca, Naparin juga melihat alih fungsi lahan sebagai penyebab semakin sulitnya menemukan sarang lebah. Ia menyaksikan sendiri perubahan lanskap di sejumlah wilayah yang sebelumnya berupa hutan kini berubah menjadi perkebunan sawit atau kawasan industri. Deforestasi dan perkebunan monokultur membuat lebah kehilangan habitat alaminya.

Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Selatan, Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono, menyebutkan bahwa dari total luas wilayah provinsi sekitar 3,87 juta hektare pada 2024, tutupan hutan kini tersisa sekitar 1,789 juta hektare atau 45,2 persen. Sisanya didominasi oleh kawasan non-hutan dan area non-vegetasi. Kehilangan hutan menyebabkan fragmentasi habitat sehingga lebah harus menempuh jarak lebih jauh untuk mencari nektar dan serbuk sari. Kondisi ini meningkatkan kebutuhan energi lebah, sementara sumber pakan tidak selalu tersedia karena perubahan iklim.

Tekanan ruang hidup juga semakin besar karena lebih dari separuh wilayah Kalimantan Selatan telah terbebani berbagai izin konsesi, mulai dari pemanfaatan hutan, pertambangan, hingga perkebunan. Akibatnya, lebah madu hutan semakin sering ditemukan di luar habitat alaminya, bahkan bersarang di pohon kelapa sawit atau kawasan perkotaan.

Fenomena ini menurut Ramadhani Eka Putra, peneliti entomologi dari Institut Teknologi Bandung, merupakan bentuk migrasi lebah untuk mempertahankan kelangsungan koloninya. Dalam sepuluh tahun terakhir, penelitian menunjukkan lebah mulai beradaptasi dengan lingkungan perkotaan karena ketersediaan pakan, tempat bersarang, serta perlindungan dari predator. Kawasan perumahan dengan ruang terbuka hijau dapat menyediakan sumber nektar bagi lebah, sementara struktur bangunan tertentu menyerupai celah pohon yang aman untuk sarang.

Namun kehadiran lebah di kota bukan berarti kondisi ekosistem membaik. Ramadhani menilai migrasi tersebut justru menunjukkan tekanan ekologis di habitat alami mereka. Kota hanya menjadi habitat darurat, bukan solusi jangka panjang. Lebah sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan curah hujan karena aktivitasnya bergantung pada tanaman berbunga dan kondisi cuaca yang stabil.

Perubahan iklim juga mempengaruhi siklus pembungaan tanaman. Mohamad Hanif Wicaksono, pengembang buah lokal hutan di Kalimantan Selatan, mengatakan pola musim yang dulu relatif mudah diprediksi kini menjadi tidak menentu. Hingga sekitar 2020, ia masih bisa memperkirakan waktu musim buah raya, tetapi setelah itu pola musim menjadi kacau. Hujan yang datang terus-menerus membuat tanaman lebih banyak menumbuhkan daun dibandingkan bunga, sehingga buah sering gagal terbentuk.

Perubahan pola musim ini berdampak langsung pada ketersediaan pakan lebah. Karena lebah sangat bergantung pada bunga sebagai sumber nektar, berkurangnya musim berbunga otomatis mengurangi produksi madu. Di beberapa tahun terakhir, bahkan pernah terjadi hampir tidak ada buah hutan yang dihasilkan di kawasan Meratus.

Foto: Ikhsan Effendi untuk Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia.

Penelitian yang dilakukan Trisnu Satriadi dari Universitas Lambung Mangkurat menunjukkan produksi madu sangat berkaitan dengan musim bunga. Dalam kondisi normal, musim bunga berlangsung dari Juli hingga Februari dengan puncaknya pada September hingga November. Pada periode tersebut produksi madu relatif tinggi. Namun ketika musim bunga terganggu akibat perubahan iklim, produksi madu menjadi tidak menentu.

Dampak perubahan iklim terhadap lebah juga terjadi secara global. Departemen Pertanian Amerika Serikat mencatat sekitar 1,7 juta koloni lebah mati antara musim panas 2024 hingga musim semi 2025, setara dengan kehilangan lebih dari 60 persen koloni lebah komersial di negara tersebut. Penurunan populasi lebah terjadi akibat kombinasi faktor, termasuk perubahan iklim, pestisida, serta hilangnya habitat.

Padahal secara global terdapat lebih dari 20.000 spesies penyerbuk hewan yang berkontribusi terhadap sekitar 75 persen tanaman pangan dunia. Hilangnya lebah dapat mengganggu sistem penyerbukan yang menopang produksi pangan manusia.

Data Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan menunjukkan tren peningkatan suhu sekitar 0,0177 derajat Celcius per tahun dalam periode 1974–2025. Dalam lebih dari lima dekade terakhir, suhu rata-rata meningkat hampir 1 derajat Celcius dibandingkan kondisi awal pengamatan. Variabilitas curah hujan juga semakin tinggi, dipengaruhi oleh fenomena global seperti El Niño, La Niña, dan Indian Ocean Dipole.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik, menilai fenomena yang terjadi pada lebah madu hutan di Pegunungan Meratus dapat menjadi indikator sederhana perubahan iklim. Ia mendorong penelitian lebih lanjut secara kolaboratif untuk memahami dampak perubahan iklim terhadap populasi lebah, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan lingkungan yang sedang terjadi.

Share the Post:

Related Posts