LaporIklim

Perempuan di Lingkar Tambang

Indonesia sedang mengukuhkan dirinya sebagai poros nikel dunia, sebuah julukan megah untuk logam yang digadang-gadang menjadi penyelamat bumi dari krisis iklim melalui perannya dalam produksi baterai kendaraan listrik. Tambang dipromosikan sebagai jalan cepat menuju kemakmuran melalui hilirisasi, industrialisasi, dan peningkatan devisa. Namun, realitas di lapangan jauh dari narasi yang dibangun di panggung konferensi dan laporan tahunan pembangunan.

Restorasi Gambut dan Mangrove: Krisis Iklim dan Kekosongan Negara

Di tengah gelombang perburukan iklim global, Indonesia kembali ditagih komitmen pengurangan emisinya melalui dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC). Namun di balik gemuruh komitmen internasional itu, negara justru memadamkan obor restorasi gambutnya sendiri.

Tambang di Pulau Kecil adalah Pengabaian Negara Terhadap Rakyat dan Lingkungan

Pulau-pulau kecil yang seharusnya menjadi benteng ekologis satu per satu dikapling, dijual, dan dibongkar untuk kepentingan tambang. Negara yang semestinya menjadi pelindung ruang hidup rakyat, justru bertindak sebagai sekutu modal, menyulap hukum menjadi alat legitimasi perampasan ruang hidup di pulau-pulau kecil. 

Rakus Tambang, Kurus Anak: Ironi Stunting di Kawasan Tambang

Anak tambang, sumber foto: Mongabay

Persoalan stunting tidak sekadar tentang jumlah kalori makanan yang dikonsumsi, melainkan soal kualitas air bersih, sanitasi, dan lingkungan tempat tinggal yang layak. Apa gunanya telur rebus, ikan, sayuran, dan nasi jika mereka mandi di air asam tambang, mencuci tangan dengan limbah logam berat, dan ambil air di sungai yang tercemar tailing nikel dan emas?.

Kado Terindah Proyek Strategis Nasional (PSN): Etnosida dan Ekosida

Dalam melodi lagu kebangsaan “Indonesia Raya,” terdapat makna mendalam akan harapan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. Selayaknya stanza ketiga yang berbunyi “S’lamatlah rakyatnya, S’lamatlah putranya, Pulaunya, lautnya, semuanya, Majulah Neg’rinya, Majulah pandunya, Untuk Indonesia Raya.”, pemerintah yang seharusnya menjamin kesejahteraan rakyat seringkali melupakan esensi stanza ini. Rakyat, tanah, dan laut dikorbankan demi kepentingan kelompoknya, salah satu contohnya adalah Program Strategis Nasional (PSN).